Ibu-Bapakmu Juga Ingin Bisa Main Hape

Ibu : “Mas, mbok Ibu diajari cara pake hape ini toh, Mas. Ibu mau bisa wasapan sama kawan-kawan SMA Ibu.”

Kamu, seorang intelektual modern : “Duh, ribet ah, Bu. Ibu SMS-an aja lah sama mereka. Lebih gampang.”

Akuilah bahwa skenario mirip-mirip di atas pernah terjadi paling tidak sekali dalam hidupmu.

Gadget (enakan pakai kata ini daripada kata ‘gawai’) adalah kebutuhan hakiki umat modern. Bangun tidur yang dilakukan bukan lagi berdoa atau minum air segelas–tapi dengan mata setengah terbuka, tangan meraba-raba ke tempat terakhir meletakkan hape/tablet semalam, lalu mengelus-ngelus layarnya yang bersinar. Selama tidur ada berita apa ya? Apa ada yang twitwor? Apa Susanti sudah upload foto jalan-jalannya di Karang Anyar, hih pasti kebanyakan selfie deh!

We can’t afford missing the news, aren’t we?
(Ya bisa sih tapi namanya juga sudah addict sama internet. Yessuh.)

Umat modern di atas maksudnya siapa aja? Apa hanya anak-anak muda aja, generasi ADD millennial? Ya ndak lah. Orang tua kita juga manusia modern hitungannya, walau penyerapan teknologinya tidak sekuat kaum muda.

Karena sesama manusia modern, tentunya orang tua juga berhak menikmati semua kecanggihan teknologi komunikasi dalam bentuk gadget. Bukan begitu?

Tapi mereka kan sudah tua. Apa tidak sebaiknya mereka jauh-jauh saja dari keruwetan dunia internet ini? Apa yang mau di-share sih sama mereka, kegiatannya gitu-gitu aja setiap hari. Lagipula mereka mau cari apa di internet, kasihan nanti mereka pasti bingung gak tahu mesti buka apa atau mencet yang mana.

Tahan dulu kuda-kudamu, anak muda.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak ingin orang tuanya mengerti cara pakai gadget dengan alasan ia tidak ingin mereka ‘kepincut’ internet dan media sosial. Saya diam saja karena malas berdebat saat itu, tetapi saya pikir teman saya ini bersikap egois dengan mengambil keputusan untuk orang tuanya.

Berikut alasan kenapa kita seharusnya tidak bersikap seperti teman saya tersayang itu.

Pertama: mungkin orang tuamu memang mau tahu & mau bisa cara pakai gadget dan penasaran dengan internet tapi bingung harus mulai dari mana. Apa kamu sebagai anak alih-alih membantu malah mau melarang? What are you, a fascist plus Malin Kundang combo?

Kedua: mereka jauh lebih tua dari kamu. Walau umur tidak selalu berbanding lurus dengan matangnya pola pikir, kemungkinan besarnya mereka akan bijaksana dalam menyikapi hal-hal di internet. Kalau dalam hal ketagihan rasanya sih podo wae, malah kita yang muda ini lebih rentan. *dilit semua foto idol*

Ketiga: it’s flippin’ access to the internet; hak setiap umat yang hidup untuk bisa menggunakannya. Kamu bahagia bisa tahu banyak hal di internet? Gembira karena bisa ngobrol via aplikasi chat dengan teman-temanmu dan bergaul di 10 platform medsos sekaligus? Senang bisa mengakses hal-hal favorit dari dalamnya? Terpana karena bisa tahu berita politik yang terjadi di seberang lautan dengan cepat? Pastinya. Oleh karena itu, mari kita berhenti bersikap egois. Sharing is caring, kid.

Keempat: mereka sudah mengajarimu banyak hal. Mereka memperkenalkanmu kepada teknologi yang namanya sendok, mengajarimu cara naik sepeda, cuci baju sendiri, mungkin cara bikin nasi goreng telur, atau cara mengurus KTP. Walau sepertinya sederhana, semuanya itu bentuk teknologi dan keahlian hidup. Jadi, tentu tidak ada salahnya kamu membalas budi—walau tidak dengan setimpal—jasa baik mereka dengan elmu nyekrol mania mu itu.

Alasan kelima adalah yang paling jujur: agar kamu tidak perlu merasa tidak enak setiap kali kamu nyuekin ortumu dengan memilih main hape ketimbang ngobrol. Ya kaann~

Mama saya adalah salah satu orang tua yang syukurnya telah melek teknologi internet. Usia beliau sekarang 60 tahun. Saya akui kadang ada kalanya saya tidak sabar ketika mengajari Mama cara pakai hape ataupun tablet. Seringkali pertanyaan yang diajukan yang itu-itu lagi. Seperti cara simpan nomor telepon agar bisa nyambung ke Whatsapp, cara kirim gambar, atau cara download bahan bacaan rutinnya dari internet.

Setelah ada setahun dia pakai hape berinternet, sekarang semuanya terasa memudahkan untuk berkomunikasi dengan Mama. Berkabar dan kasih info tidak mesti lewat telpon, cukup via Whatsapp atau LINE sehingga percakapannya tetap tersimpan dan bisa dilihat lagi di lain waktu. Mama juga sudah bisa ambil foto dan kirim lewat aplikasi chat, seperti foto-foto keponakan dan kucing di rumah yang rutin dikirimkan hampir setiap minggu.

Mama juga senang karena bisa ngobrol dengan teman-temannya yang jarang ada kesempatan untuk bertemu langsung. Dia punya akun Facebook juga jadi bisa tahu berita terbaru dan lihat-lihat foto terakhir teman dan keluarga. Kalau Twitter katanya dia kurang ngerti itu gunanya apa jadi aplikasinya sudah dihapus—tindakan bijaksana, bosku hahahahahaha~

Saya akhir-akhir ini sudah tidak terlalu peduli lagi dengan berita politik ataupun gosip-gosip sosial terkini (baca: artis figur publik lainnya). Namun Mama update akan hal-hal tersebut sehingga akhirnya acara ngobrol kita jadi seru karena banyak hal yang bisa dibagi dari beliau. Terus terang saya kagum dan senang melihat Mama, yang kalau kata orang kulon, ‘stay sharp’ di usia tuanya.

Kembali ke teman sayang yang pelit membagi teknologi kepada orangtuanya tadi, saya jadi ingin bertanya ke dia, “Kalau keadaannya tiba-tiba dibalik, kamu yang jadi orang tua, lalu bagaimana? Apakah tetap akan berpikiran sama?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s