Brain Attic

No Design Credit

Your mind. (Image from here)


“I consider that a man’s brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose. A fool takes in all the lumber of every sort that he comes across, so that the knowledge which might be useful to him gets crowded out, or at best is jumbled up with a lot of other things, so that he has a difficulty in laying his hands on it. Now the skillful workman is very careful indeed as to what he takes into his brain-attic. He will have nothing but the tools which may help him in doing his work, but of these he has a large assortment, and all in the most perfect order. It is a mistake to think that little room has elastic walls and can distend to any extent. Depend upon it – there comes a time when for every addition of knowledge you forget something that you knew before. It is of the highest importance, therefore, not to have useless facts elbowing out the useful ones.”

-Sherlock Holmes in “A Study in Scarlet” (Chapter 2: “The Science of Deduction”)


Strong Brows That Blow

"Beach, I'm fabulous."

Thranduil approves.

I like defined and strong eyebrows. Period.

Ada 3 hal yang dapat membentuk karakter wajah dengan sekejap: alis, eyeliner, dan bulu mata palsu. Karena tidak semua orang bisa bikin garis eyeliner dengan baik dan siapa juga yang punya waktu untuk masang bulu mata palsu setiap hari, maka alis adalah hal termudah untuk dilakukan.

Saya ingat tahunnya 2010 dan waktu itu rasanya belum muncul tren alis tebal. Belum kenal juga siapa itu Cara Delevigne. Dunia peralisan masih biasa-biasa saja layaknya indomie polos tanpa telur, sawi, dan rawit. But I do remember, dalam percakapan-percakapan toilet bersama seorang teman wanita, kami sepakat bahwa alis adalah komponen penting pembingkai wajah dan karenanya harus berkarakter kuat–sama seperti keinginan kita untuk mempunyai kepribadian yang kuat. Thus, the strokes must be bold, not barely even there like something greyish and scattered, shy and wish to be unrecognized by society.

Untungnya akhir-akhir ini dunia fesyen sepaham dengan kami. Semenjak 2014 (I guess) deretan wajah dengan alis tebal dan tegas menjadi terkenal, sehingga dunia–yang dipenuhi oleh domba-domba pengekor–seketika jatuh cinta kepada alis tebal.

Di Indonesia pun begitu. It’s a death sentence for that infamous Krisdayanti’s super thin eyebrows. Orang-orang berhenti mencabuti alisnya sampai gundul. Tak ada lagi yang menato alisnya menjadi satu garis tipis mencelat tak normal (shout out to nci-nci jakbar). Tren berganti dan menjadikan banyak orang berlomba-lomba menyulam alisnya. Salon-salon yang meladeni sulam alis selalu full booking; bahkan untuk salon yang terkenal, antriannya bisa sampai 6 bulan ke depan. Effin insane. But bear in mind, ladies (and gents), that that treatment ain’t friendly to our sorry pocket, and also don’t forget about the after-treatment drill. Meh.

Untuk kita warga Simpleton Budgetery, pensil alis Viva come to the rescue. Buat yang mau ekstra-upaya, menambahkan eye-shadows warna gelap ke alis dengan kuas juga bisa mengangkat alis menjadi tampak lebih tebal. Yang ada uang lebihan dikit bisa nabung untuk beli brow-kit Benefit yang dijual di Sephora (cursing the capitalism in Swahilian). Apa pun itu, yang perlu diingat adalah: ini semua tentang kelihaian memainkan perkakas, sebuah seni penmanship terhadap wajah.

Agar semakin menambah pengetahuan kita soal dunia peralisan, simak video The History of Eyebrows by British Vogue di bawah ini. Favorit saya tentu saja dekade 1950 dan 1980-an. Ciao.

About Choices

Trees of Life

Image from here

“I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet and another fig was a brilliant professor, and another fig was Ee Gee, the amazing editor, and another fig was Europe and Africa and South America, and another fig was Constantin and Socrates and Attila and a pack of other lovers with queer names and offbeat professions, and another fig was an Olympic lady crew champion, and beyond and above these figs were many more figs I couldn’t quite make out. I saw myself sitting in the crotch of this fig tree, starving to death, just because I couldn’t make up my mind which of the figs I would choose. I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.”
― Sylvia Plath, The Bell Jar

Yes, it could be small and not too pretty… But hey, it’s yours! :)

Shelter is one of human basic needs. Unfortunately, today’s economy doesn’t give much choice for people, especially who live and work in populous cities, to own a house. For that reason, renting house becomes popular option for cutting off the budget. However, I disagree with statement ‘better renting a big & luxurious house than only buying a small and ugly one.’ Buying house is wiser because by doing that we aim for a long-term plan; and it gives us more secure and satisfied feelings.

Admittedly only few people are in position to pay the full price of a house. Nevertheless, those who don’t have lots of money can buy house by obtaining a loan from a bank. The monthly sum we pay to the bank can be viewed as rent for a house. The best part is when we have paid back the loan over an extended period (maybe will take more than 10 years), we own the house!


Furthermore, buying a house brings safer and happier thoughts into our lives. Safer means secure feeling knowing that you don’t need to be afraid the landlord will evict you anytime he or she wants. Happier means satisfaction of having your own house (who doesn’t?) which can be altered anytime you wish and decorated in your own style. Though the place may small and the location is far, all those good feelings pay back at the end.

In conclusion, for me buying a house, instead of renting it, is the best option. I take that opinion because I don’t see renting house as a good option for long-term condition. Maybe it’s sufficient enough for a temporary period, or as long as the tenant remains single. Yet, as we grow older of course we should make a permanent life-style which at the very end will deliver the sense of comfort and security.

Delusional Astrology (and a bit introduction to The Big Bang Theory gang)

Hello, world!

(template salutation for wordpress)

New year! New activity!

Tahun 2013 ini dicanangkan sebagai tahun go-blog (lafalkan saja, tak perlu dipikirkan padanan makna lainnya).

2013 dibuka dengan keranjingan gue akan serial sitcom baru bertitel The Big Bang Theory (TBBT). Sebenernya sitcom ini sdh tayang di luar sono dr tahun 2007, gue nya aja yang baru dapet file-nya baru-baru ini dari temen gue.

Jadiii, TBBT ini berkisah seputar kehidupan 2 orang physicist (Leonard Hofstadter dan Sheldon Cooper) yang ngekost bareng di sebuah apartment. Teman-teman yang sering nongkrong di apartment mereka adalah seorang astrophysicist (Raj Koothrappali), seorang aerospace engineer (Howard Wolowitz), dan gadis tetangga mereka yang cantik dan kepingin jadi aktris, Penny. Celutukan-celutukan geek namun sarat dengan ilmu pengetahuan sering banget muncul dari kejadian sehari-hari mereka, kocak deh pokoke..


The Big Bang Theory gang: (left to right) Howard, Leonard, Penny, Sheldon, Rajesh

Nah, ada yang menarik dari pilot episode TBBT ini yang langsung bikin gue goes ‘he he he, yeah right’ begitu ngeliatnya.

Jadi ceritanya gini, Penny baru aja pindah ke apartment seberang Leonard and Sheldon tinggal. Leonard yang langsung ngerasa naksir Penny pada pandangan pertama langsung ngundang Penny untuk makan siang bareng for the sake of hospitality (nice try :p). Lalu mereka saling cerita soal kegiatan masing-masing. Dan here goes the most funny quotes from that pilot episode.

Penny: “I’m a Sagittarius, which probably tells you way more than you need to know.”

Sheldon: “Yes, it tells us that you participate in the mass cultural delusion that the sun’s apparent position relative to arbitrarily defined constellations at the time of your birth somehow affects your personality.”

Penny: “Participate in the what?”


Yang kalo ditranslate kira-kira begini artinya:

Penny: “Gue Sagitarius, jadi kayaknya lo dah tau deh gue orangnya kayak apa.”

Sheldon: “Iya, itu berarti lo berpartisipasi dalam delusi budaya massal yang mengartikan dgn sesukanya makna dari posisi bintang-bintang pada saat tanggal kelahiran terhadap kepribadian lo.”

Penny: “Partisipasi apaan?”

Gue lantas cekikikan denger percakapan antara Penny si zodiac-believer dengan Sheldon si genius yang kelewat rasional dan juga fussy-slash-nasty ini 🙂

Kenapa gue tertarik sama topik di atas, simply because I often heard or read about people (especially girls) who always relate his/her life with the zodiac signs.

Check this one out that I got from twitter feed:


People dig on Astrology.

Do you see the pattern written up there? Yes, if you scrutinize, these people tend to highlight the good or cool characteristics of their zodiac. Jarang banget gue liat orang cerita kalo berdasarkan zodiaknya, dia tuh pemalas, moody, and matre. Ada? Maybe, but I bet it must be rare.

Kelakuan yang ajaib lainnya dari para zodiac enthusiasts ini adalah menggolong-golongkan orang dari zodiaknya (even orang yang digolong-golongkan itu gak percaya sama bintang-bintangan, sigh). Dan lahirlah percakapan seperti berikut:

“Eh, gue baca dari bio itu anak baru, ternyata dia itu Sagitarius loh.. Ih, jauh-jauh dari dia deh, orangnya pasti bossy!”


Dudes & dudettes, ya kali lo bisa tau itu orang kayak apa cuman dari so-called zodiac lo itu. Ini nih baru yg namanya judge mental. Kasian kan itu anak baru kalo ternyata dia orangnya friendly dan jauh dari kesan bossy. 😦

Dan lagian emang lo bisa ngegolongin karakter 7 miliar orang hanya ke dalam 12 jenis-zodiak? Gak pernah denger istilah yang bilang kalo setiap individu itu unik, seunik sidik jari dan butiran salju yang gak bakal sama satu sama lainnya? Really, guys?

However, emang hampir di seluas dunia (dari orang kite sampai orang asia, bule, negro, dll) make zodiak sebagai rujukan nasihat untuk soal-soal finansial, rencana perjalanan, perubahan karier, tanggal perkawinan, dan tentunya urusan asmara. Satu tanda zodiak dianggap dapat mengidentifikasi calon teman hidup dan bahkan dapat menyingkapkan tipe mana yang tidak akan sejalan.

BTW, sebenernya darimana sih asal muasal kepercayaan zodiak itu?

Nah, ilmu yang mempelajari zodiak/perbintangan itu namanya Astrologi.

astrologi /as·tro·lo·gi/ n ilmu perbintangan yg dipakai untuk meramal dan mengetahui nasib orang; nujum (online KBBI

Yang perlu digarisbawahi dari definisi astrologi di atas adalah kata: nujum.

Wih, berarti zodiak itu ada hubunganannya dengan dunia mejik-mejik dan perdukunan gitu dong? Yes, it is. Terutama kalo kita balik ke masa lalu saat ilmu ini pertama kali ditekuni.

Here are some references mengenai asal muasal Astrologi:

”Astrologi Barat dapat ditelusuri secara langsung ke teori dan praktek orang-orang Khaldea dan Babilonia dari tahun 2000-an SM”—The Encyclopedia Americana (1977), Jil. 2, hlm. 557.

”Astrologi didasarkan atas dua gagasan yang bersifat Babilon: zodiak (rasi bintang), dan keilahian benda-benda angkasa. . . . Orang-orang Babilonia percaya bahwa planet-planet mempunyai pengaruh yang diharapkan seseorang dari dewa mereka masing-masing.”—Great Cities of the Ancient World (New York, 1972), L. Sprague de Camp, hlm. 150.

Tau kan bangsa Babilonia? (Ayo digebet lagi buku sejarah SMP-nya.)

Babilonia adalah bangsa yg kehidupan masyarakatnya sangat sarat dengan praktek spiritisme (1 pemujaan kpd roh; 2 kepercayaan bahwa roh dapat berhubungan dng manusia yg masih hidup;3 ajaran dan cara-cara memanggil roh; KBBI) termasuk di dalamnya ilmu gaib, tenung, dan astrologi.

Dari hasil penggalian dan dari teks-teks kuno diketahui ada kurang lebih 50 kuil yang dibaktikan kepada para dewa-dewa berhala mereka. Dewa tiga serangkai yang menonjol di adalah Sin (dewa bulan), Syamas (dewa matahari), dan Istar (dewi kesuburan); konon mereka inilah penguasa zodiak.

Orang Babilonia mengembangkan astrologi dalam upaya utk mencari tahu masa depan manusia dgn meneliti jalur peredaran yang tampaknya dilalui matahari di antara bintang-bintang dalam waktu satu tahun, yang sekarang disebut ekliptika. Akan tetapi, baru pada abad kedua SM seorang astronom Yunani membagi zodiak dalam 12 bagian yang sama besar, masing-masing 30 derajat; bagian-bagian tersebut akhirnya disebut zodiak dan dinamakan menurut konstelasi yang terkait. Kata ”zodiak” berasal dari bahasa Yunani dan artinya ”lingkaran binatang-binatang”, karena kebanyakan dari ke-12 konstelasi zodiak itu pada mulanya disebutkan dengan nama binatang atau makhluk laut (asal mula simbol-simbol zodiak).

Nah, dari situ kamu tau kan kalo ramalan zodiak yang sering kali kamu baca di majalah dan internet itu asal mulanya dari kepercayaan bangsa primitif, yang suka praktek perdukunan, dan yang notabenenya kurang rasional (I could say this because how can you take a decision only by studying the position of the sun and stars instead of studying the aspects and facts of your problem? Irrational is the right term.)

So, just like what Sheldon said, zodiac believers live a delusional life.

Delusion: 1 : a belief that is not true : a false idea; 2 : a false idea or belief that is caused by mental illness. (

Kita sekarang hidup di dalam era di mana teknologi dalam masa puncaknya, ilmu pengetahuan modern telah banyak terkuak, dan pendidikan bukan lagi milik golongan-golongan tertentu; and the question now is: Haruskah kita masih mempercayai kepercayaan primitive astrologi yang tidak berdasar itu?