Tentang Noah

Noah's ark - illustration (image: https://cbneurope.com/wp-content/uploads/noah.jpg)

Noah’s ark – illustration (image: https://cbneurope.com/wp-content/uploads/noah.jpg)

Dari semua kisah yang pernah dibagikan di muka bumi ini, nyata maupun tidak, kisah Noah (Nabi Nuh) dan air bah adalah yang paling berkesan buat saya. Membayangkan banjir super kolosal yang mengakibatkan seluruh permukaan bumi—sampai dengan puncak gunung-gunung—tertutup oleh air serta memusnahkan hampir seluruh makhluk hidup, menghancurkan vegetasi yang ada, dan mungkin mengubah kontur dan juga suhu bumi; itu semua mengerikan namun juga membangkitkan rasa terpukau buat saya secara pribadi. Layaknya menonton film fiksi tentang bencana alam, namun dalam skala CGI yang luar biasa katastropik.

Ada orang-orang, misalkan beberapa ilmuwan ataupun para atheist, yang merasa kisah ini adalah fiktif belaka. Hal tersebut terutama karena kisah Noah adalah kisah yang dikenal melalui kitab-kitab agama, yang mana kian hari kian dinilai sebagai sesuatu yang absurd.
Kisah Noah setidaknya tercatat di dalam 3 agama: Islam, Yudaisme, dan Kristen. Karena dibesarkan sebagai seorang Kristen, saya mengenal Noah dari Alkitab—terutama buku Kejadian (Genesis). Pada pasal 6 sampai dengan 9 dari Kejadian—yang merupakan salah satu tulisan paling awal mengenai sejarah umat manusia—dicatat mengenai mengenai alasan di balik diturunkannya air bah, uraian singkat mengenai Noah dan keluarganya, proses pembuatan bahtera, dan peristiwa air bah itu sendiri.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan mengapa saya tertarik untuk menulis tentang Noah. Sedari kecil, ada kalanya saat sendiri saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang rasanya bisa dibilang fundamental (waduh) mengenai hidup ini. Noah dengan segala lika-liku ceritanya, memberikan saya pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai cara hidup ini berjalan. Dengan keterbatasan pikiran dan informasi, saya mencoba menghubungkan satu titik pengetahuan ke titik pengetahuan lain agar menjadi (moga-moga) bisa menjadi suatu gambar yang utuh di kemudian hari. Karena saya orangnya pelupa, maka saya mencoba merangkum hal-hal yang saya kumpulkan sejauh ini ke dalam bentuk tulisan. Tulisan mengenai Noah ini salah satunya. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang kiranya membaca tulisan ini, harap maklum.

Lanjut, ya.

Sejauh ini, berikut yang bisa saya simpulkan secara singkat dari catatan Alkitab mengenai Noah:
1. Tuhan melihat bumi dihuni oleh manusia-manusia dan makhluk-makhluk yang jahatnya minta ampun dan ingin menyingkirkan mereka, to start new.
2. Namun ada 1 orang yang dipandang benar di hadapan Tuhan, yaitu Noah. Tuhan ingin Noah (dan orang-orang lain yang masih mau berpaling kepadanya) beserta binatang-binatang bisa selamat dari bencana yang akan diturunkan. Oleh karena itu dia meminta Noah untuk membuat bahtera dengan spesifikasi pembangunan yang Ia tentukan.
3. Selama masa pembangunan bahtera yang memakan waktu 40-50 tahun, Tuhan memberi tugas lain kepada Noah agar dia bisa memberikan peringatan akan datangnya bencana dengan tujuan mempersuasi orang-orang lain agar berubah dan bisa ikut selamat.
4. Tetapi setelah sekian lama berlangsung, hanya Noah dan keluarganya (total 8 orang) yang mau tetap setia dan berbakti kepada Tuhan.
5. Seminggu menjelang hari eksekusi, Tuhan memanuver binatang-binatang yang hidup di darat dan udara untuk masuk ke dalam bahtera, masing-masing sepasang.
6. Hujan mahaderas turun tanpa henti selama 40 hari dan butuh waktu sampai 1 tahun lebih untuk Nuh dan keluarganya bisa aman keluar menginjak daratan lagi. Bahtera mereka “mendarat” di pegunungan Ararat (di zaman modern ini masuk di dalam wilayah negara Turki).
7. Tuhan membuat perjanjian dengan Nuh bahwa Ia tidak akan menurunkan bencana air bah global lagi—ditandai dengan munculnya pelangi.
8. Hal lain: mulai saat itu Tuhan mengizinkan umat manusia untuk makan daging binatang.

That’s the recap.

Sampai sini dulu, nanti disambung lagi. Jangan banyak-banyak, nanti pegal bacanya; ‘cos there’s still a lot more to chew for sure. Let that piece sink in our mind first.

Ngombe kopi disik ning teras, yuk~