Kopi (atau disebut juga Alat Bantu Kesadaran Setiap Pagi)

Kamu peminum kopi harian?
Kalau iya berarti kita sama dan saya menulis ini untuk kamu.

Kopi buat saya adalah resistensi melawan penat kepala. Penat di sini maksudnya tekanan tumpul di sekitar tengkorak dan batang leher yang kalau diabaikan bisa bikin aktiviti terganggu alias hadeeeeehh~

Mungkin itu salah satu sinyal ketagihan kopi. Entahlah, tapi memang gitu adanya. Menurut saya kopi adalah eliksir terbaik di dunia. Tapi saya bukan peminum kopi tok layaknya para purist yang trendi itu. Favorit saya adalah kopi dengan campuran susu dan itu saya minum nyaris (kalau gak bisa dibilang pasti) setiap hari.

Saya dulu terbiasa minum kopi sachetan. Tau kan yang kalo diketeng harganya Rp1,000 sampai Rp2,000. Indocafe, Good Day, ABC, Torabika, Nescafe, kopi Jessica adalah merek-merek dagang yang bisa kamu temui rencengannya di warung-warung kelontong. Pokoknya tinggal sobek, tuang ke gelas, seduh air panas, nikmati. Seekonomis dan semudah itu.

Setelah beberapa saat bosan dengan seduh menyeduh, saya beralih ke kopi siap saji dalam bentuk kotakan atau kalengan. Tipe ini biasanya diminum dingin (sudah dimasukkan ke dalam chiller terlebih dahulu). Merk yang beredar luas antara lain Nescafe, Good Day, Kopiko 78, dst, dsb. Harganya gak mahal-mahal banget. Sekitar Rp 4,000 sampai dengan Rp9,000. Tinggal beli, buka botolnya, dan minum. So great.

Tapi, semakin ke sini ke sini, seiring dengan semakin berumur dan melambatnya metabolisme badan, kopi kemasan (baik bentuk sachet, kotak, kaleng) is not that great anymore. Karena gula. Contohnya, kamu pernah iseng baca komposisi (ingredients kalo kata orang sana) pada kemasan kopi kotak atau kaleng? Lihat ini:

Kita ngomongin kopi bukan? Harusnya dia jadi unsur utama. Tapi dari 100% ternyata kebanyakan merk hanya mencantumkan 1-2% bubuk kopi instan, selebihnya adalah perisa makanan, sederet bahan kimia, dan juga seabrek gula murah yang terkadang bikin isi di dalam kemasan tersebut lebih terasa kayak kolak alih-alih kopi. Ini ironis mengingat negeri kita ini sebenarnya adalah negeri penghasil kopi, bukan???

Sugar is fun. It’s cheap but delicious. It’s one of the major factors that sustains food industries. But the effect for our health is not that brilliant. Just google it.

-Pakde Warwo.

Sugar in all its forms is the root cause of our obesity epidemic and most of the chronic disease sucking the life out of our citizens and our economy – and, increasingly, the rest of the world. You name it, it’s caused by sugar: heart disease, cancer, dementia, type 2 diabetes, depression, and even acne, infertility and impotence.

-Mark Hyman, M.D. (or somebody on the internet, but so far I agree with him).

Lalu gimana dong? Starbucks aja apa? Kan bisa mesen pake sedikit atau tanpa gula sekalipun tuh.

Starbucks ena dan punya saripati kehidupan alias WIFI. Hihihihihi. Tapi dengan harga +/- Rp50,000 per cup rasanya dompet akan kasih ultimatum untuk ngindomie siang malam di akhir bulan; dan walau ada uluran tali kasih berupa promo diskon bayar 1 untuk 2 cup, yaiya kali deh bang minum kopi harus nungguin promo Starbucks đŸ˜¦

Jadi gimana enaknya biar bisa minum kopi tiap hari tapi gak bangkrut?

Bikin sendiri aja latte (atau kopi susu kalo kata orang sini mah) ala-ala kafe. Walau gak mirip-mirip amat, seenggaknya kita gak minum air gula berkedok kopi tiap hari. Saya ada resep kopi susu sendiri yang gak paten-paten amat takarannya–karena jujur saya bikinnya cuma pake perasaan kayak orang baperan (ha).

Begini caranya:

Bahan yang dibutuhkan:
1. Kopi bubuk, saya pake yg instant karena tak harus giling sendiri dan tak ada ampas.
2. Susu cair, yang kotak sedang aja, kira-kira 250an ml. Saya sukanya pake yang rasa cokelat karena rasa dan warna kopi terasa lebih oke dibanding kalo pake yang putih plain.
3. Gula sedikit (jika dibutuhkan saja, preferably gula rendah kalori).

Cara buat:

1. Ambil 1 sendok teh kopi, masukkan ke dalam mug (jangan gede-gede mug-nya)
2. Buka kotak susu cair, tusuk lubangnya pake sedotan yang biasa nempel di kotaknya. Tuang sampai kira-kira sepertiga cangkir, atau secocoknya kamu aja.
3. Tambahkan air panas (pastikan panasnya mantap agar tak terkalahkan oleh suhu susu cair yang biasanya adem/dingin setelah disimpan di kulkas) lalu aduk larutan itu.
4. Kalo kamu adalah si gigi manis, silakan tambah gula sedikit.
5. Terakhir, sumpal lubang susu tadi pake sedotannya dan simpan dalam kulkas. Buat saya yang sehari bikin kopi 2x, 1 kotak itu bisa untuk 2 hari pemakaian.

Selamat ngopi.

Advertisements