Ibu-Bapakmu Juga Ingin Bisa Main Hape

Ibu : “Mas, mbok Ibu diajari cara pake hape ini toh, Mas. Ibu mau bisa wasapan sama kawan-kawan SMA Ibu.”

Kamu, seorang intelektual modern : “Duh, ribet ah, Bu. Ibu SMS-an aja lah sama mereka. Lebih gampang.”

Akuilah bahwa skenario mirip-mirip di atas pernah terjadi paling tidak sekali dalam hidupmu.

Gadget (enakan pakai kata ini daripada kata ‘dawai’) adalah kebutuhan hakiki umat modern. Bangun tidur yang dilakukan bukan lagi berdoa atau minum air segelas–tapi dengan mata setengah terbuka, tangan meraba-raba ke tempat terakhir meletakkan hape/tablet semalam, lalu mengelus-ngelus layarnya yang bersinar. Selama tidur ada berita apa ya? Apa ada yang twitwor? Apa Susanti sudah upload foto jalan-jalannya di Karang Anyar, hih pasti kebanyakan selfie deh!

We can’t afford missing the news, aren’t we?
(Ya bisa sih tapi namanya juga sudah addict sama internet. Yessuh.)

Umat modern di atas maksudnya siapa aja? Apa hanya anak-anak muda aja, generasi ADD millennial? Ya ndak lah. Orang tua kita juga manusia modern hitungannya, walau penyerapan teknologinya tidak sekuat kaum muda.

Karena sesama manusia modern, tentunya orang tua juga berhak menikmati semua kecanggihan teknologi komunikasi dalam bentuk gadget. Bukan begitu?

Tapi mereka kan sudah tua. Apa tidak sebaiknya mereka jauh-jauh saja dari keruwetan dunia internet ini? Apa yang mau di-share sih sama mereka, kegiatannya gitu-gitu aja setiap hari. Lagipula mereka mau cari apa di internet, kasihan nanti mereka pasti bingung gak tahu mesti buka apa atau mencet yang mana.

Tahan dulu kuda-kudamu, anak muda.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak ingin orang tuanya mengerti cara pakai gadget dengan alasan ia tidak ingin mereka ‘kepincut’ internet dan media sosial. Saya diam saja karena malas berdebat saat itu, tetapi saya pikir teman saya ini bersikap egois dengan mengambil keputusan untuk orang tuanya.

Berikut alasan kenapa kita seharusnya tidak bersikap seperti teman saya tersayang itu.

Pertama: mungkin orang tuamu memang mau tahu & bisa cara pakai gadget dan penasaran dengan internet tapi bingung mau mulai dari mana. Apa kamu sebagai anak alih-alih membantu malah mau melarang? What are you, a fascist plus Malin Kundang combo?

Kedua: mereka jauh lebih tua dari kamu. Walau umur tidak selalu berbanding lurus dengan matangnya pola pikir, kemungkinan besarnya mereka akan bijaksana dalam menyikapi hal-hal di internet. Kalau dalam hal ketagihan rasanya sih podo wae, malah kita yang muda ini lebih rentan. *dilit semua foto idol*

Ketiga: it’s flippin’ access to the internet; hak setiap umat yang hidup untuk bisa menggunakannya. Kamu bahagia bisa tahu banyak hal di internet? Gembira karena bisa ngobrol via aplikasi chat dengan teman-temanmu dan bergaul di 10 platform medsos sekaligus? Senang bisa mengakses hal-hal favorit dari dalamnya? Terpana karena bisa tahu berita politik yang terjadi di seberang lautan dengan cepat? Pastinya. Oleh karena itu, mari kita berhenti bersikap egois. Sharing is caring, kid.

Keempat: mereka sudah mengajarimu banyak hal. Mereka memperkenalkanmu kepada teknologi yang namanya sendok, mengajarimu cara naik sepeda, cuci baju sendiri, mungkin cara bikin nasi goreng telur, atau cara mengurus KTP. Walau sepertinya sederhana, semuanya itu bentuk teknologi dan keahlian hidup. Jadi, tentu tidak ada salahnya kamu membalas budi—walau tidak dengan setimpal—jasa baik mereka dengan elmu nyekrol mania mu itu.

Alasan kelima adalah yang paling jujur: agar kamu tidak perlu merasa tidak enak setiap kali kamu nyuekin ortumu dengan memilih main hape ketimbang ngobrol. Ya kaann~

Mama saya adalah salah satu orang tua yang syukurnya telah melek teknologi internet. Usia beliau sekarang 60 tahun. Saya akui kadang ada kalanya saya tidak sabar ketika mengajari Mama cara pakai hape ataupun tablet. Seringkali pertanyaan yang diajukan yang itu-itu lagi. Seperti cara simpan nomor telepon agar bisa nyambung ke Whatsapp, cara kirim gambar, atau cara download bahan bacaan rutinnya dari internet.

Setelah ada setahun dia pakai hape berinternet, sekarang semuanya terasa memudahkan untuk berkomunikasi dengan Mama. Berkabar dan kasih info tidak mesti lewat telpon, cukup via Whatsapp atau LINE sehingga percakapannya tetap tersimpan dan bisa dilihat lagi di lain waktu. Mama juga sudah bisa ambil foto dan kirim lewat aplikasi chat, seperti foto-foto keponakan dan kucing di rumah yang rutin dikirimkan hampir setiap minggu.

Mama juga senang karena bisa ngobrol dengan teman-temannya yang jarang ada kesempatan untuk bertemu langsung. Dia punya akun Facebook juga jadi bisa tahu berita terbaru dan lihat-lihat foto terakhir teman & keluarga. Kalau Twitter katanya dia kurang ngerti itu gunanya apa jadi aplikasinya sudah dihapus—tindakan bijaksana, bosku hahahahahaha~

Saya akhir-akhir ini sudah tidak terlalu peduli lagi dengan berita politik ataupun gosip-gosip sosial terkini (baca: artis figur publik lainnya). Namun Mama update akan hal-hal tersebut sehingga akhirnya acara ngobrol kita jadi seru karena banyak hal yang bisa dibagi dari beliau. Terus terang saya kagum dan senang melihat Mama, yang kalau kata orang kulon, ‘stay sharp’ di usia tuanya.

Kembali ke teman sayang yang pelit membagi teknologi kepada orangtuanya tadi, saya jadi ingin bertanya ke dia, “Kalau keadaannya tiba-tiba dibalik, kamu yang jadi orang tua, lalu bagaimana? Apakah tetap akan berpikiran sama?”

Advertisements

Kopi (atau disebut juga Alat Bantu Kesadaran Setiap Pagi)

Kamu peminum kopi harian?
Kalau iya berarti kita sama dan saya menulis ini untuk kamu.

Kopi buat saya adalah resistensi melawan penat kepala. Penat di sini maksudnya tekanan tumpul di sekitar tengkorak dan batang leher yang kalau diabaikan bisa bikin aktiviti terganggu alias hadeeeeehh~

Mungkin itu salah satu sinyal ketagihan kopi. Entahlah, tapi memang gitu adanya. Menurut saya kopi adalah eliksir terbaik di dunia. Tapi saya bukan peminum kopi tok layaknya para purist yang trendi itu. Favorit saya adalah kopi dengan campuran susu dan itu saya minum nyaris (kalau gak bisa dibilang pasti) setiap hari.

Saya dulu terbiasa minum kopi sachetan. Tau kan yang kalo diketeng harganya Rp1,000 sampai Rp2,000. Indocafe, Good Day, ABC, Torabika, Nescafe, kopi Jessica adalah merek-merek dagang yang bisa kamu temui rencengannya di warung-warung kelontong. Pokoknya tinggal sobek, tuang ke gelas, seduh air panas, nikmati. Seekonomis dan semudah itu.

Setelah beberapa saat bosan dengan seduh menyeduh, saya beralih ke kopi siap saji dalam bentuk kotakan atau kalengan. Tipe ini biasanya diminum dingin (sudah dimasukkan ke dalam chiller terlebih dahulu). Merk yang beredar luas antara lain Nescafe, Good Day, Kopiko 78, dst, dsb. Harganya gak mahal-mahal banget. Sekitar Rp 4,000 sampai dengan Rp9,000. Tinggal beli, buka botolnya, dan minum. So great.

Tapi, semakin ke sini ke sini, seiring dengan semakin berumur dan melambatnya metabolisme badan, kopi kemasan (baik bentuk sachet, kotak, kaleng) is not that great anymore. Karena gula. Contohnya, kamu pernah iseng baca komposisi (ingredients kalo kata orang sana) pada kemasan kopi kotak atau kaleng? Lihat ini:

Kita ngomongin kopi bukan? Harusnya dia jadi unsur utama. Tapi dari 100% ternyata kebanyakan merk hanya mencantumkan 1-2% bubuk kopi instan, selebihnya adalah perisa makanan, sederet bahan kimia, dan juga seabrek gula murah yang terkadang bikin isi di dalam kemasan tersebut lebih terasa kayak kolak alih-alih kopi. Ini ironis mengingat negeri kita ini sebenarnya adalah negeri penghasil kopi, bukan???

Sugar is fun. It’s cheap but delicious. It’s one of the major factors that sustains food industries. But the effect for our health is not that brilliant. Just google it.

-Pakde Warwo.

Sugar in all its forms is the root cause of our obesity epidemic and most of the chronic disease sucking the life out of our citizens and our economy – and, increasingly, the rest of the world. You name it, it’s caused by sugar: heart disease, cancer, dementia, type 2 diabetes, depression, and even acne, infertility and impotence.

-Mark Hyman, M.D. (or somebody on the internet, but so far I agree with him).

Lalu gimana dong? Starbucks aja apa? Kan bisa mesen pake sedikit atau tanpa gula sekalipun tuh.

Starbucks ena dan punya saripati kehidupan alias WIFI. Hihihihihi. Tapi dengan harga +/- Rp50,000 per cup rasanya dompet akan kasih ultimatum untuk ngindomie siang malam di akhir bulan; dan walau ada uluran tali kasih berupa promo diskon bayar 1 untuk 2 cup, yaiya kali deh bang minum kopi harus nungguin promo Starbucks 😦

Jadi gimana enaknya biar bisa minum kopi tiap hari tapi gak bangkrut?

Bikin sendiri aja latte (atau kopi susu kalo kata orang sini mah) ala-ala kafe. Walau gak mirip-mirip amat, seenggaknya kita gak minum air gula berkedok kopi tiap hari. Saya ada resep kopi susu sendiri yang gak paten-paten amat takarannya–karena jujur saya bikinnya cuma pake perasaan kayak orang baperan (ha).

Begini caranya:

Bahan yang dibutuhkan:
1. Kopi bubuk, saya pake yg instant karena tak harus giling sendiri dan tak ada ampas.
2. Susu cair, yang kotak sedang aja, kira-kira 250an ml. Saya sukanya pake yang rasa cokelat karena rasa dan warna kopi terasa lebih oke dibanding kalo pake yang putih plain.
3. Gula sedikit (jika dibutuhkan saja, preferably gula rendah kalori).

Cara buat:

1. Ambil 1 sendok teh kopi, masukkan ke dalam mug (jangan gede-gede mug-nya)
2. Buka kotak susu cair, tusuk lubangnya pake sedotan yang biasa nempel di kotaknya. Tuang sampai kira-kira sepertiga cangkir, atau secocoknya kamu aja.
3. Tambahkan air panas (pastikan panasnya mantap agar tak terkalahkan oleh suhu susu cair yang biasanya adem/dingin setelah disimpan di kulkas) lalu aduk larutan itu.
4. Kalo kamu adalah si gigi manis, silakan tambah gula sedikit.
5. Terakhir, sumpal lubang susu tadi pake sedotannya dan simpan dalam kulkas. Buat saya yang sehari bikin kopi 2x, 1 kotak itu bisa untuk 2 hari pemakaian.

Selamat ngopi.

2017 and Anxiety

Sekarang sudah tahun 2017. Dan saya tidak berusaha untuk hopeful, bubbly, dan positif—karena tentu saja sifat bubbly emoh kalo harus dijadikan adjektiva untuk menerangkan kepribadian saya—tapi kita semua berdiri melihat masa depan yang, kalau tidak suram, mungkin bisa dibilang tidak terlalu menjanjikan.

Berita berputar-putar di kejadian tidak enak. Jujur aja, sebenarnya antisipasi saya ketika buka timeline medsos atau baca berita, dalam dan luar negeri, adalah, “hmm.. ada apa lagi nih?” Walaupun diselingi sama kabar-kabar ringan dan gossip hasil kurasi LINE NEWS (yang mana saya masih nyari cara untuk non-aktifinnya coz untuk apa gunanyaaaa bnxt~), you feel this world is rotting in a steady move. Dan saya percaya bahwa hal yang  jelek di luar sana, cepat atau lambat, pengaruh dan semangatnya akan sampai ke tanah air.

Seorang kenalan pernah bilang, “Lo ngeliatnya terlalu global. Jangan kejauhan lah, mikirin yang terjadi di sekitar sini ajah, jauh kita dari semuanya itu…” ketika bicara soal this lyf. But I can’t. Selalu ada relevansinya. Kayaknya naïf kalo bilang apa yang terjadi di luar daerah kita tidak akan menjangkau dan mempengaruhi kita. Dulu pas sebelum zaman kita tahu berita cuma lewat koran saja dan The Smiling General masih mengatur konsumsi informasi apa yang boleh masuk ke rakyatnya, mungkin kenalan tadi bisa jadi benar. But now? Hehehe, dapat salam dari netizen.

Coba tengok ada apa di luar negeri:

Gampang kalau luar negeri mah. Patokannya Amerika aja, the most powerful country, yang kebijakannya selalu kasih pengaruh ke negara-negara lain. Amerika sekarang punya punya presiden baru: Donald Trump. Seluruh dunia tercengang dengan pilihan orang murika yang antitesa dari presiden sebelumnya, Barrack Obama. Tidak hanya karena beda ras dan latar belakang, tapi seluruh pembawaannya yang mencerminkan ketotalan white-supremacy-prick. Dia terang-terangan membenci kaum pendatang yang katanya cuma bikin susah dan sumber perkara di Amerika. Dia merendahkan wanita, mem-bully orang-orang yang tidak sejalan dengannya, menganggap global warming hanya lelucon lebay saja, tidak suka kaum LGBT, dan bertekad membangun tembok di perbatasan Amerika-Meksiko. A total joke. But yes, against all odds, he won and legally became US president on January 20th, 2017.

Thing is I had this hunch months before his victory, that he would win the election. Terlepas dari kekalahannya di popular vote melawan Hillary Clinton, banyak warga US yang diam-diam mendukung Trump. Mereka gak akan terang-terangan deklarasi kalo mereka dukung Trump, coz morality & social convention condemn most everything Trump does. Banyak orang Amerika yang muak dengan terorisme dan aksi kejahatan yang dilakukan oleh warga pendatang, dan bagi mereka Trump yang radikal adalah jawaban dari kebencian yang mereka tutup-tutupi selama ini.

Salah satu order awal Presiden Trump yang langsung efektif gak pake lama adalah melarang pendatang dari 7 negara untuk masuk ke Amerika—bahkan untuk mereka yang sudah punya green card. Tujuh negara itu semuanya negara yang dicurigai adalah sarang teroris dengan mayoritas penduduk beragama Muslim (but surprise, surprise, Saudi Arabia gak termasuk dong). Hal tersebut dengan mudah diartikan sebagai #muslimban oleh semua orang. Di sisi lain, administrasi Trump ini juga bakal jadi bahan bakar baru buat kebencian kelompok radikal Islam. Karena api dibalas api sama dengan malapetaka damkar.

Dalam negeri:

Politik dalam negeri sedang panas-panasnya. Ini karena Jakarta tanggal 15 Februari nanti akan melangsungkan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah—Gubernur). Kenapa Pilkada Jakarta penting? Ya kan karena Indonesia cuma Jakarta doang. Hehe. Ulang. Ini penting karena apa yang terjadi di Jakarta bisa jadi tolak ukur di daerah-daerah lainnya, bahkan sampai ke tingkat pemerintahan pusat. Gitu.

Ini ringkasannya: Jakarta punya Gubernur, namanya Ahok (Basuki Tjahaya Purnama), seorang Cina-Kristen yang kontroversial. Dia banyak dipuji karena visi-misinya yang progresif dan mau secara keras memberesi sistem pelayanan administrasi publik dan tata kota Jakarta, dan di saat bersamaan melawan banyak preman cilik dan kakap, serta mengganyang pejabat-pejabat pemda yang terindikasi melakukan korupsi. Sebenarnya dia ideal untuk bikin Jakarta jadi beres dan teratur. Tapi sayangnya dia kepleset dalam satu hal yang bikin kaum Muslim garis keras yang merasa jijik punya gubernur kresten menjadi semakin mendidih rasa bencinya. This kind of people really cannot grasp the idea that a government leader has a totally separated function and is not in the same term with religious leader. Mereka tidak keberatan siapa yang akan jadi Gubernur DKI Jakarta berikutnya, asal bukan Ahok.

Tentu saja rasa benci yang bergejolak tersebut segera disambar untuk ditunggangi oleh pihak-pihak oportunis. Pihak-pihak yang tidak pernah suka akan sepak terjang Ahok atau mereka yang ingin memperpanjang kekuasaannya di negeri ini (iya, ini maksudnya dek Agus si anak pepo SBY). Agus Yudhoyono dan mpok Sylvi, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (the king of memes), adalah opsi-opsi bagi mereka yang menganut paham Asal-Bukan-Ahok. Pihak-pihak ini merapatkan diri dengan grup radikal FPI (Front Pembela Islam) yang menjadi corong utama ketidaksukaan dan kebencian terhadap Ahok. Hal ini termasuk pdkt ke pimpinan FPI, Habib Riziek, oleh Anies Baswedan, yang despite his high speech and so called noble name in education field: I didn’t find it surprising tho. Mereka menyangkal telah berkompromi dengan FPI, but yeah, sure. Di aksi 411, 212, dan 112, selalu ada rekam jejak campur tangan mereka.

Why FPI is no good? Karena harusnya kedamaian tidak datang dengan cara mengopresi siapa pun yang berseberangan pandangan, terutama dengan menggunakan dalih agama mereka, menahbiskan bahwa mereka yang paling benar namun di saat bersamaan juga menghapus elemen kasih dan toleransi dari ajaran mereka sendiri. Dan hal itu lah yang dilakukan oleh FPI.

Tapi kalau ditelisik, bisa dipahami ke mana semua ini berawal dan berakhir. Iya, ini masih soal pilpres (pemilihan presiden) tahun 2014, dan ini akan berujung kembali ke pilpres 2019. Intinya adalah Jokowi, kan? Masyarakat selalu melihat Ahok adalah paketan yang tak terpisah dari Jokowi. Semenjak mereka menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI tahun 2012, sampai Jokowi menjadi Presiden di tahun 2014 dan Ahok jadi Gubernur DKI penggantinya; mereka berdua menjadi beacon untuk harapan Indonesia yang lebih baik dan bersih. Mereka yang sudah capek dengan permainan politik zaman Orba dan paska-reformasi bahkan menginginkan mereka berdua untuk maju berpasangan di Pilpres 2019. Even further, Ahok diharapkan menjadi Presiden melanjutkan pekerjaan Jokowi di tahun 2024. Ya, banyak orang yakin bahwa Jokowi akan semakin kuat posisinya jika orang yang mendampingi beliau adalah Ahok. So, do the math now. Knock Ahok down for bigger chances to cut Jokowi off.

Jadi, dalam hal apa kedua hal di atas saling berhubungan?

Kebencian. Halnya seperti percikan api kecil yang dibawa angin ke segala penjuru: keputusan Trump untuk menekan warga Muslim Amerika sangat bisa mengeskalasi rasa dendam umat Muslim di belahan dunia lain, misalnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Orang Muslim Indonesia yang keras akan melampiaskan kekesalannya ke warga Kristen (yang notabene adalah agama mayoritas di Amerika). Namun sebaliknya, berita tindakan kebencian yang dilakukan oleh warga Muslim (baca: FPI) juga sampai ke Amerika, dan orang-orang radikal di sana menambahkan hal tersebut ke daftar alasan-alasan mengapa harus menekan orang Muslim Amerika. Kamu bisa lihat tek-toknya? Itu akan seperti lingkaran setan yang semakin membesar dan menebal karena tidak ada yang mau bersikap rasional dan damai. Tapi mau sampai kapan kah?

 

So, that’s what I’m worried about.

Today is February 13, and the governor election will be held on February 15, two more days. I’m dreading the day—walau saya bukan lagi warga Jakarta.

Jadi intinya apa? Intinya adalah these ulukutek anxiety feelings will gorge our life more over in the future.

Welcome, 2017.

 

Ps: rasanya saya tidak perlu menambahkan link untuk peristiwa-peristiwa di atas, secara itu bertebaran di mana-mana like helloooo… Just do the google thing, teman. Coz internet remembers and is forever.

 

 

Brain Attic

No Design Credit

Your mind. (Image from here)

 

“I consider that a man’s brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose. A fool takes in all the lumber of every sort that he comes across, so that the knowledge which might be useful to him gets crowded out, or at best is jumbled up with a lot of other things, so that he has a difficulty in laying his hands on it. Now the skillful workman is very careful indeed as to what he takes into his brain-attic. He will have nothing but the tools which may help him in doing his work, but of these he has a large assortment, and all in the most perfect order. It is a mistake to think that little room has elastic walls and can distend to any extent. Depend upon it – there comes a time when for every addition of knowledge you forget something that you knew before. It is of the highest importance, therefore, not to have useless facts elbowing out the useful ones.”

-Sherlock Holmes in “A Study in Scarlet” (Chapter 2: “The Science of Deduction”)

Strong Brows That Blow

"Beach, I'm fabulous."

Thranduil approves.

I like defined and strong eyebrows. Period.

Ada 3 hal yang dapat membentuk karakter wajah dengan sekejap: alis, eyeliner, dan bulu mata palsu. Karena tidak semua orang bisa bikin garis eyeliner dengan baik dan siapa juga yang punya waktu untuk masang bulu mata palsu setiap hari, maka alis adalah hal termudah untuk dilakukan.

Saya ingat tahunnya 2010 dan waktu itu rasanya belum muncul tren alis tebal. Belum kenal juga siapa itu Cara Delevigne. Dunia peralisan masih biasa-biasa saja layaknya indomie polos tanpa telur, sawi, dan rawit. But I do remember, dalam percakapan-percakapan toilet bersama seorang teman wanita, kami sepakat bahwa alis adalah komponen penting pembingkai wajah dan karenanya harus berkarakter kuat–sama seperti keinginan kita untuk mempunyai kepribadian yang kuat. Thus, the strokes must be bold, not barely even there like something greyish and scattered, shy and wish to be unrecognized by society.

Untungnya akhir-akhir ini dunia fesyen sepaham dengan kami. Semenjak 2014 (I guess) deretan wajah dengan alis tebal dan tegas menjadi terkenal, sehingga dunia–yang dipenuhi oleh domba-domba pengekor–seketika jatuh cinta kepada alis tebal.

Di Indonesia pun begitu. It’s a death sentence for that infamous Krisdayanti’s super thin eyebrows. Orang-orang berhenti mencabuti alisnya sampai gundul. Tak ada lagi yang menato alisnya menjadi satu garis tipis mencelat tak normal (shout out to nci-nci jakbar). Tren berganti dan menjadikan banyak orang berlomba-lomba menyulam alisnya. Salon-salon yang meladeni sulam alis selalu full booking; bahkan untuk salon yang terkenal, antriannya bisa sampai 6 bulan ke depan. Effin insane. But bear in mind, ladies (and gents), that that treatment ain’t friendly to our sorry pocket, and also don’t forget about the after-treatment drill. Meh.

Untuk kita warga Simpleton Budgetery, pensil alis Viva come to the rescue. Buat yang mau ekstra-upaya, menambahkan eye-shadows warna gelap ke alis dengan kuas juga bisa mengangkat alis menjadi tampak lebih tebal. Yang ada uang lebihan dikit bisa nabung untuk beli brow-kit Benefit yang dijual di Sephora (cursing the capitalism in Swahilian). Apa pun itu, yang perlu diingat adalah: ini semua tentang kelihaian memainkan perkakas, sebuah seni penmanship terhadap wajah.

Agar semakin menambah pengetahuan kita soal dunia peralisan, simak video The History of Eyebrows by British Vogue di bawah ini. Favorit saya tentu saja dekade 1950 dan 1980-an. Ciao.

Tentang Noah

Noah's ark - illustration (image: https://cbneurope.com/wp-content/uploads/noah.jpg)

Noah’s ark – illustration (image: https://cbneurope.com/wp-content/uploads/noah.jpg)

Dari semua kisah yang pernah dibagikan di muka bumi ini, nyata maupun tidak, kisah Noah (Nabi Nuh) dan air bah adalah yang paling berkesan buat saya. Membayangkan banjir super kolosal yang mengakibatkan seluruh permukaan bumi—sampai dengan puncak gunung-gunung—tertutup oleh air serta memusnahkan hampir seluruh makhluk hidup, menghancurkan vegetasi yang ada, dan mungkin mengubah kontur dan juga suhu bumi; itu semua mengerikan namun juga membangkitkan rasa terpukau buat saya secara pribadi. Layaknya menonton film fiksi tentang bencana alam, namun dalam skala CGI yang luar biasa katastropik.

Ada orang-orang, misalkan beberapa ilmuwan ataupun para atheist, yang merasa kisah ini adalah fiktif belaka. Hal tersebut terutama karena kisah Noah adalah kisah yang dikenal melalui kitab-kitab agama, yang mana kian hari kian dinilai sebagai sesuatu yang absurd.
Kisah Noah setidaknya tercatat di dalam 3 agama: Islam, Yudaisme, dan Kristen. Karena dibesarkan sebagai seorang Kristen, saya mengenal Noah dari Alkitab—terutama buku Kejadian (Genesis). Pada pasal 6 sampai dengan 9 dari Kejadian—yang merupakan salah satu tulisan paling awal mengenai sejarah umat manusia—dicatat mengenai mengenai alasan di balik diturunkannya air bah, uraian singkat mengenai Noah dan keluarganya, proses pembuatan bahtera, dan peristiwa air bah itu sendiri.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan mengapa saya tertarik untuk menulis tentang Noah. Sedari kecil, ada kalanya saat sendiri saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang rasanya bisa dibilang fundamental (waduh) mengenai hidup ini. Noah dengan segala lika-liku ceritanya, memberikan saya pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai cara hidup ini berjalan. Dengan keterbatasan pikiran dan informasi, saya mencoba menghubungkan satu titik pengetahuan ke titik pengetahuan lain agar menjadi (moga-moga) bisa menjadi suatu gambar yang utuh di kemudian hari. Karena saya orangnya pelupa, maka saya mencoba merangkum hal-hal yang saya kumpulkan sejauh ini ke dalam bentuk tulisan. Tulisan mengenai Noah ini salah satunya. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang kiranya membaca tulisan ini, harap maklum.

Lanjut, ya.

Sejauh ini, berikut yang bisa saya simpulkan secara singkat dari catatan Alkitab mengenai Noah:
1. Tuhan melihat bumi dihuni oleh manusia-manusia dan makhluk-makhluk yang jahatnya minta ampun dan ingin menyingkirkan mereka, to start new.
2. Namun ada 1 orang yang dipandang benar di hadapan Tuhan, yaitu Noah. Tuhan ingin Noah (dan orang-orang lain yang masih mau berpaling kepadanya) beserta binatang-binatang bisa selamat dari bencana yang akan diturunkan. Oleh karena itu dia meminta Noah untuk membuat bahtera dengan spesifikasi pembangunan yang Ia tentukan.
3. Selama masa pembangunan bahtera yang memakan waktu 40-50 tahun, Tuhan memberi tugas lain kepada Noah agar dia bisa memberikan peringatan akan datangnya bencana dengan tujuan mempersuasi orang-orang lain agar berubah dan bisa ikut selamat.
4. Tetapi setelah sekian lama berlangsung, hanya Noah dan keluarganya (total 8 orang) yang mau tetap setia dan berbakti kepada Tuhan.
5. Seminggu menjelang hari eksekusi, Tuhan memanuver binatang-binatang yang hidup di darat dan udara untuk masuk ke dalam bahtera, masing-masing sepasang.
6. Hujan mahaderas turun tanpa henti selama 40 hari dan butuh waktu sampai 1 tahun lebih untuk Nuh dan keluarganya bisa aman keluar menginjak daratan lagi. Bahtera mereka “mendarat” di pegunungan Ararat (di zaman modern ini masuk di dalam wilayah negara Turki).
7. Tuhan membuat perjanjian dengan Nuh bahwa Ia tidak akan menurunkan bencana air bah global lagi—ditandai dengan munculnya pelangi.
8. Hal lain: mulai saat itu Tuhan mengizinkan umat manusia untuk makan daging binatang.

That’s the recap.

Sampai sini dulu, nanti disambung lagi. Jangan banyak-banyak, nanti pegal bacanya; ‘cos there’s still a lot more to chew for sure. Let that piece sink in our mind first.

Ngombe kopi disik ning teras, yuk~

About Choices

Trees of Life

Image from here

“I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet and another fig was a brilliant professor, and another fig was Ee Gee, the amazing editor, and another fig was Europe and Africa and South America, and another fig was Constantin and Socrates and Attila and a pack of other lovers with queer names and offbeat professions, and another fig was an Olympic lady crew champion, and beyond and above these figs were many more figs I couldn’t quite make out. I saw myself sitting in the crotch of this fig tree, starving to death, just because I couldn’t make up my mind which of the figs I would choose. I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.”
― Sylvia Plath, The Bell Jar